Tampilkan postingan dengan label "Perang" AS-Saudi Pecah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label "Perang" AS-Saudi Pecah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Februari 2011

Raja Saudi Keturunan Yahudi

Raja Saudi Keturunan Yahudi

Sejumlah kesaksian yang meyakinkan bahawa, keluarga Saud merupakan keturunan Yahudi dapat dibuktikan dengan fakta-fakta berikut:
Pada tahun 1960-an, pemancar radio ‘Sawtul Arab’ di Kaherah, Mesir dan pemancar radio di San’a, Yaman, membuktikan bahawa nenek moyang keluarga Saud adalah dari keturunan Yahudi. Bahkan Raja Faisal tidak boleh menyanggah kenyataan itu ketika memberitahu kepada ‘The Washington Post’ pada tanggal 17 Sept 1969 dengan menyatakan bahawa, “kami (keluarga Saud) adalah keluarga Yahudi. Kami sepenuhnya tidak setuju dengan setiap penguasa Arab atau Islam yang memperlihatkan permusuhan kepada Yahudi, sebaliknya kita harus tinggal bersama mereka dengan damai. Negeri kami, Saudi Arabia adalah merupakan sumber awal Yahudi dan nenek moyangnya, lalu menyebar keseluruh dunia”.
Pernyataan ini keluar dari lisan Raja Faisal As-Saud bin Abdul Aziz. Hafez Wahabi, penasihat Hukum Keluarga Kerajaan Saudi menyebutkan didalam bukunya yang berjudul ‘Semenanjung Arabia’ bahawa Raja Abdul Aziz yang mati pada tahun 1953 mengatakan : “ pesan kami (pesan Saudi) dalam menghadapi oposisi (pihak lawan) dari suku-suku Arab, datukku, Saud Awal menceritakan saat menawan sejumlah Sheikh dari suku Mathir dan ketika kelompok lain dari suku yang sama datang untuk meminta membebaskan semua tawanannya. Saud Awal memberikan perintah kepada orang-orangnya untuk memenggal kepala semua tawanannya, kemudian memalukan mereka dan menurunkan nyali para penengah (orang yang ingin membuat rundingan) dengan cara mengundang mereka ke jamuan makan. Makanan yang disediakan adalah daging manusia yang sudah dimasak, potongan kepala tawanan diletakkan diatas piring”.
Para penengah menjadi terkejut dan menolak untuk makan daging saudara mereka sendiri. Kerana mereka menolak untuk memakannya, Saud Awal memerintahkan memenggal kepala mereka juga. Itulah kejahatan yang sangat mengerikan yang dilakukan oleh orang yang mengaku dirinya sendiri sebagai raja kepada rakyat yang tidak berdosa kerana kesalahan mereka menentang terhadap kebengisannya dan memerintah dengan sewenang-wenangnya.
Hafez Wahabi selanjutnya menyatakan bahawa, berkaitan dengan kisah berdarah nyata yang menimpa Sheikh suku Mathir dan sekelompok suku Mathir yang mengunjunginya dalam rangka meminta pembebasan pimpinan mereka yang menjadi tawanan Raja Abdul Aziz As-Saud, iaitu Faisal Ad-Darwis. Diceritakan kisah (pembunuhan Ad-Darwis) itu kepada utusan suku Mathir dengan maksud untuk mencegah mereka untuk tidak meminta pembebasan pimpinan mereka. Jika tidak, akan diperlakukan sama. Dia bunuh Sheikh Faisal Darwis dan darahnya dipakai untuk berwudhu’ sebelum dia solat.
Kesalahan Faisal Darwis waktu itu hanya kerana dia mengkritik Raja Abdul Aziz As-Saud. Ketika Raja menandatangani dokumen yang disiapkan pengusa Inggeris pada tahun 1922 sebagai penyataan memberikan Palestin kepada Yahudi. Tandatangannya dibubuhkan dalam sebuah konferensi di Al-Qir tahun 1922.
Sistem regim keluarga Yahudi (keluarga Saud) dulu dan sekarang masih tetap sama. Tujuannya untuk merampas kekayaan Negara, merompak, memalsukan, melakukan semua jenis kekejaman, ketidak adilan, serangan dan penghinaan, yang kesemuanya itu dilakukan sesuai dengan ajaran kelompok Wahabi yang membolehkan memenggal kepala orang yang menentang ajarannya.
Sikap apatis Negara-negara Arab seperti Mesir, Yordania, khususnya Arab Saudi, mengundang kecurigaan umat Islam. Bagimana mungkin mereka bungkam menyaksikan pembantaian saudara Muslim yang berlangsung di depan matanya, dilakukan oleh musuh abadi zionis Israel la’natullah? Penelitian dan Penelusuran seorang Mohammad Shakher, yang akhirnya dibunuh oleh rezim Saudi karena temuannya yang menggemparkan, agaknya menuntun kita menemukan jawabnya.
Shakher menulis buku berjudul ‘Ali Saud min Aina wa Ila Aina?’ membongkar apa di balik bungkamnya penguasa Khadimul Haramaian setiapkali berhadapan dengan konflik Palestina-Israel. Buku ini juga menemukan fakta baru, mengenai asal muasal Dinasti Saudi. Bagaimanakah runut garis genealoginya? Benarkah mereka berasal dari trah Anza Bin Wael, keturunan Yahudi militan?
Informasi buku ini mencekam sekaligus mencengangkan. Sulit dipercaya, sebuah dinasti yang bernaung di bawah kerajaan Islam Saudiyah bisa melakukan kebiadaban iblis dengan melakukan pembakaran masjid sekaligus membunuh jamaah shalat yang berada di dalamnya. Jika isi buku yang terbit 3 Rabi’ul Awal 1401 H (1981 M) ini ‘terpaksa’ dipercaya, karena faktanya yang jelas, maka kejahatan Kerajaan Saudi Arabia terhadap kabilah Arab dahulu, persis seperti kebuasan zionis Israel membantai rakyat Muslim di Jalur Gaza.
Melacak Asal Dinasti Saudi Dalam silsilah resmi kerajaan Saudi Arabia disebutkan, bahwa Dinasti Saudi Arabia bermula sejak abad ke dua belas Hijriyah atau abad ke delapan belas Masehi. Ketika itu, di jantung Jazirah Arabia, tepatnya di wilayah Najd yang secara historis sangat terkenal, lahirlah Negara Saudi yang pertama yang didirikan oleh Imam Muhammad bin Saud di “Ad-Dir’iyah”, terletak di sebelah barat laut kota Riyadh pada tahun 1175 H./1744 M., dan meliputi hampir sebagian besar wilayah Jazirah Arabia.
Negara ini mengaku memikul tanggung jawab dakwah menuju kemurnian Tauhid kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, mencegah prilaku bid’ah dan khurafat, kembali kepada ajaran para Salafus Shalih dan berpegang teguh kepada dasar-dasar agama Islam yang lurus. Periode awal Negara Saudi Arabia ini berakhir pada tahun 1233 H./1818 M.
Periode kedua dimulai ketika Imam Faisal bin Turki mendirikan Negara Saudi kedua pada tahun 1240 H./1824 M. Periode ini berlangsung hingga tahun 1309 H/1891 M. Pada tahun 1319 H/1902 M, Raja Abdul Aziz berhasil mengembalikan kejayaan kerajaan para pendahulunya, ketika beliau merebut kembali kota Riyad yang merupakan ibukota bersejarah kerajaan ini.
Semenjak itulah Raja Abdul Aziz mulai bekerja dan membangun serta mewujudkan kesatuan sebuah wilayah terbesar dalam sejarah Arab modern, yaitu ketika berhasil mengembalikan suasana keamanan dan ketenteraman ke bagian terbesar wilayah Jazirah Arabia, serta menyatukan seluruh wilayahnya yang luas ke dalam sebuah negara modern yang kuat yang dikenal dengan nama Kerajaan Saudi Arabia. Penyatuan dengan nama ini, yang dideklarasikan pada tahun 1351 H/1932 M, merupakan dimulainya fase baru sejarah Arab modern.
Raja Abdul Aziz Al-Saud pada saat itu menegaskan kembali komitmen para pendahulunya, raja-raja dinasti Saud, untuk selalu berpegang teguh pada prinsip-prinsip Syariah Islam, menebar keamanan dan ketenteraman ke seluruh penjuru negeri kerajaan yang sangat luas, mengamankan perjalanan haji ke Baitullah, memberikan perhatian kepada ilmu dan para ulama, dan membangun hubungan luar negeri untuk merealisasikan tujuan-tujuan solidaritas Islam dan memperkuat tali persaudaraan di antara seluruh bangsa arab dan kaum Muslimin serta sikap saling memahami dan menghormati dengan seluruh masyarakat dunia.
Di atas prinsip inilah, para putra beliau sesudahnya mengikuti jejak-langkahnya dalam memimpin Kerajaan Saudi Arabia. Mereka adalah: Raja Saud, Raja Faisal, Raja Khalid, Raja Fahd, dan Pelayan Dua Kota Suci Raja Abdullah bin Abdul Aziz.
Dinasti Sa’udi Trah Yahudi
Namun, di masa yang jauh sebelumnya, di Najd tahun 851 H. Sekumpulan pria dari Bani Al Masalikh, yaitu trah dari Kaum Anza, yang membentuk sebuah kelompok dagang (korporasi) yang bergerak di bidang bisnis gandum dan jagung dan bahan makananan lain dari Irak, dan membawanya kembali ke Najd. Direktur korporasi ini bernama Sahmi bin Hathlool. Kelompok dagang ini melakukan aktifitas bisnis mereka sampai ke Basra, di sana mereka berjumpa dengan seorang pedagang gandum Yahudi bernama Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe,
Ketika sedang terjadi proses tawar menawar, Si Yahudi itu bertanya kepada kafilah dagang itu. “Dari manakah anda berasal?” Mereka menjawab, ”Dari Kaum Anza, kami adalah keluarga Bani Al-Masalikh.” Setelah mendengar nama itu, orang Yahudi itu menjadi gembira, dan mengaku bahwa dirinya juga berasal dari kaum keluarga yang sama, tetapi terpaksa tinggal di Bashra, Irak. Karena persengketaan keluarga antara bapaknya dan ahli keluarga kaum Anza.
Setelah itu, Mordakhai kemudian menyuruh budaknya untuk menaikkan keranjang-keranjang berisi gandum, kurma dan makanan lain ke atas pundak unta-unta milik kabilah itu. Hal ini adalah sebuah ungkapan penghormatan bagi para saudagar Bani Al Masalikh itu, dan menunjukkan kegembiraannya karena berjumpa saudara tuanya di Irak. Bagi pedagang Yahudi itu, para kafilah dagang merupakan sumber pendapatan, dan relasi bisnis. Mardakhai adalah saudagar kaya raya yang sejatinya adalah keturunan Yahudi yang bersembunyi di balik roman wajah Arab dari kabilah Al-Masalikh.
Ketika rombongan itu hendak bertolak ke Najd, saudagar Yahudi itu minta diizinkan untuk ikut bersama mereka, kerana sudah lama dia ingin pergi ke tanah asal mereka Najd. Setelah mendengar permintaan lelaki Yahudi itu, kafilah dagang suku Anza itu pun amat berbesar hati dan menyambutnya dengan gembira.
Pedagang Yahudi yang sedang taqiyyah alias nyamar itu tiba di Najd dengan pedati-pedatinya. Di Najd, dia mulai melancarkan aksi propaganda tentang sejatinya siapa dirinya melalui sahabat-sahabat, kolega dagang dan teman barunya dari keturunan Bani Al-Masalikh tadi. Setelah itu, disekitar Mordakhai, berkumpullah para pendukung dan penduduk Najd. Tetapi tanpa disangka, dia berhadapan dengan seorang ulama yang menentang doktrin dan fahamnya. Dialah Syaikh Shaleh Salman Abdullah Al-Tamimi, seorang ulama kharimatik dari distrik Al-Qasem. Daerah-daerah yang menjadi lokasi disseminasi dakwahnya sepanjang distrik Najd, Yaman, dan Hijaz.
Oleh karena suatu alasan tertentu, si Yahudi Mordakhai itu -yang menurunkan Keluarga Saud itu- berpindah dari Al Qasem ke Al Ihsa. Di sana, dia merubah namanya dari Mordakhai menjadi Markhan bin Ibrahim Musa. Kemudian dia pindah dan menitip di sebuah tempat bernama Dir’iya yang berdekatan dengan Al-Qateef. Di sana, dia memaklumatkan propaganda dustanya, bahwa perisai Nabi Saw telah direbut sebagai barang rampasan oleh seorang pagan (musyrikin) pada waktu Perang Uhud antara Arab Musyrikin dan Kaum Muslimin. Katanya, “Perisai itu telah dijual oleh Arab musyrikin kepada kabilah kaum Yahudi bernama Banu Qunaiqa’ yang menyimpannya sebagai harta karun.”
Selanjutnya dia mengukuhkan lagi posisinya di kalangan Arab Badwi melalui cerita-cerita dusta yang menyatakan bagaimana Kaum Yahudi di Tanah Arab sangat berpengaruh dan berhak mendapatkan penghormatan tinggi Akhirnya, dia diberi suatu rumah untuk menetap di Dlir’iya, yang berdekatan Al-Qatef. Dia berkeinginan mengembangkan daerah ini sebagai pusat Teluk Persia. Dia kemudian mendapatkan ide untuk menjadikannya sebagai tapak atau batu loncatan guna mendirikan kerajaan Yahudi di tanah Arab. Untuk memuluskan cita-citanya itu, dia mendekati kaum Arab Badwi untuk menguatkan posisinya, kemudian secara perlahan, dia mensohorkan dirinya sebagai raja kepada mereka.
Kabilah Ajaman dan Kabilah Bani Khaled, yang merupakan penduduk asli Dlir’iya menjadi risau akan sepak terjang dan rencana busuk keturunan Yahudi itu. Mereka berencana menantang untuk berdebat dan bahkan ingin mengakhiri hidupnya. Mereka menangkap saudagar Yahudi itu dan menawannya, namun berhasil meloloskan diri.
Saudagar keturunan Yahudi bernama Mordakhai itu mencari suaka di sebuah ladang bernama Al-Malibed Gushaiba yang berdekatan dengan Al Arid, sekarang bernama Riyadh. Disana dia meminta suaka kepada pemilik kebun tersebut untuk menyembunyikan dan melindunginya. Tuan kebun itu sangat simpati lalu memberikannya tempat untuk berlindung. Tetapi tidak sampai sebulan tinggal di rumah pemilik kebun, kemudian Yahudi itu secara biadab membantai tuan pelindungnya bersama seluruh keluarganya.
Sungguh bengis, air susu dibalas dengan air aki campur tuba. Mordakhai memang pandai beralibi, dia katakan bahwa mereka semua telah dibunuh oleh pencuri yang menggarong rumahnya. Dia juga berpura-pura bahwa dia telah membeli kebun tersebut dari tuan tanah sebelum terjadinya pembantaian tersebut. Setelah merampas tanah tersebut, dia menamakannya Al-Dlir’iya, sebuah nama yang sama dengan tempat darimana ia terusir dan sudah ditinggalkannya.
Keturunan Yahudi bernama Mordakhai itu dengan cepat mendirikan sebuah markas dan ajang rendezvous bernama “Madaffa” di atas tanah yang dirampasnya itu. Di markas ini dia mengumpulkan para pendekar dan jawara propaganda (kaum munafik) yang selanjutnya mereka menjadi ujung tombak propaganda dustanya. Mereka mengatakan bahwa Mordakhai adalah Syaikh-nya orang-orang keturunan Arab yang disegani. Dia menabuh genderang perang terhadap Syaiikh Shaleh Salman Abdulla Al-Tamimi, musuh tradisinya. Akhirnya, Syeikh Shaleh Salman terbunuh di tangan anak buah Mordakhai di Masjid Al-Zalafi.
Mordakhai berhasil dan puas hati dengan aksi-aksinya. Dia berhasil menjadikan Dlir’iya sebagai pusat kekuasaannya. Di tempat ini, dia mengamalkan poligami, mengawini puluhan gadis, melahirkan banyak anak yang kemudian dia beri nama dengan nama-nama Arab.
Walhasil, kaum kerabatnya semakin bertambah dan berhasil menghegemoni daerah Dlir’iya di bawah bendera Dinasti Saud. Mereka acapkali melakukan tindak kriminal, menggalang beragam konspirasi untuk menguasai semenanjung Arab. Mereka melakukan aksi perampasan dan penggarongan tanah dan ladang penduduk setempat, membunuh setiap orang yang mencoba menentang rencana jahat mereka. Dengan beragam cara dan muslihat mereka melancarkan aksinya. Memberikan suap, memberikan iming-iming wanita dan gratifikasi uang kepada para pejabat berpengaruh di kawasan itu. Bahkan, mereka “menutup mulut” dan “membelenggu tangan” para sejarawan yang mencoba menyingkap sejarah hitam dan merunut asal garis trah keturunan mereka kepada kabilah Rabi’a, Anza dan Al-Masalikh.
Sekte Wahabi
Seorang munafik jaman kiwari bernama Muhammad Amin Al-Tamimi – Direktur/Manager Perpustakaan Kontemporer Kerajaan Saudi, menyusun garis keturunan (Family Tree) untuk Keluarga Yahudi ini (Keluarga Saudi), menghubungkan garis keturunan mereka kepada Nabi Muhammad Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam. Sebagai imbalan pekerjaannnya itu, ia menerima imbalan sebesar 35.000 (Tiga Puluh Lima Ribu) Pound Mesir dari Duta Besar Saudi Arabia di Kairo pada tahun 1362 H atau 1943 M. Nama Duta Besar Saudi Arabia itu adalah Ibrahim Al-Fadel.
Seperti disebutkan di atas, Yahudi nenek moyang Keluarga Saudi (Mordakhai), yang berpoligami dengan wanita-wanita Arab melahirkan banyak anak, saat ini pola poligami Mordakhai dilanjutkan oleh keturunannya, dan mereka bertaut kepada warisan perkimpoian itu.
Salah seorang anak Mordakhai bernama Al-Maqaran, (Yahudi: Mack-Ren) mempunyai anak bernama Muhammad, dan anak yang lainnya bernama Sa’ud, dari keturunan Sa’ud inilah Dinasti Saudi saat ini berasal.
Keturunan Saud (Keluarga Saud) memulai melakukan kampanye pembunuhan pimpinan terkemuka suku-suku Arab dengan dalih mereka murtad, mengkhianati agama Islam, meninggalkan ajaran-ajaran Al-Quran, dan keluarga Saud membantai mereka atas nama Islam.
Rakyat yang mencoba bersuara memprotes lawatan sang puteri yang jelas-jelas menghamburkan uang Negara ini akan di tembak mati dan dipenggal kepalanya.
Di dalam buku sejarah Keluarga Saudi halaman 98-101, penulis pribadi sejarah keluarga Saudi menyatakan bahwa Dinasti Saudi menganggap semua penduduk Najd menghina Tuhan. Oleh karena itu darah mereka halal, harta-bendanya dirampas, wanita-wanitanya dijadikan selir, tidak seorang Muslim pun yang dianggap benar, kecuali pengikut sekte Muhammad bin Abdul Wahab (yang aslinya juga keturunan Yahudi Turki).
Doktrin Wahabi memberikan otoritas kepada Keluarga Saudi untuk menghancurkan perkampungan dan penduduknya, termasuk anak-anak dan memperkosa wanitanya, menusuk perut wanita hamil, memotong tangan anak-anak, kemudian membakarnya. Selanjutnya mereka diberikan kewenangan dengan ajarannya yang kejam (brutal doctrin ) untuk merampas semua harta kekayaan milik orang yang dianggapnya telah menyimpang dari ajaran agama karena tidak mengikuti ajaran Wahabi.
Keluarga Yahudi yang jahat dan mengerikan ini melakukan segala jenis kekejaman atas nama sekte agama palsu mereka (sekte Wahhabi) yang sebenarnya diciptakan oleh seorang Yahudi untuk menaburkan benih-benih teror di dalam hati penduduk di kota-kota dan desa-desa. Pada tahun 1163 H, Dinasti Yahudi ini mengganti nama semenanjung Arabia dengan nama keluarga mereka, menjadi Saudi Arabia, seolah-olah seluruh wilayah itu milik pribadi mereka, dan penduduknya sebagai bujang atau budak mereka, bekerja keras siang dan malam untuk kesenangan tuannya, yaitu Keluarga Saudi.
Mereka dengan sepenuhnya menguasai kekayaan alam negeri itu seperti miliknya pribadi. Bila ada rakyat biasa mengemukakan penentangannya atas kekuasaan sewenang-wenang Dinasti Yahudi ini, dia akan di hukum pancung di lapangan terbuka. Seorang putri anggota keluarga kerajaan Saudi beserta rombongannya sekali tempo mengunjungi Florida, Amerika Serikat, dia menyewa 90 (sembilan pukuh) Suite rooms di Grand Hotel dengan harga $1 juta semalamnya. Rakyat yang mencoba bersuara memprotes lawatan sang puteri yang jelas-jelas menghamburkan uang Negara ini akan di tembak mati dan dipenggal kepalanya.
Raja Faisal Al-Saud tidak bisa menyanggah bahwa keluarganya adalah keluarga Yahudi ketika memberitahukan kepada The Washington Post pada tanggal 17 September 1969, dengan menyatakan bahwa: “Kami, Keluarga Saudi adalah keluarga Yahudi. Kami sepenuhnya tidak setuju dengan setiap penguasa Arab atau Islam yang memperlihatkan permusuhannya kepada Yahudi, sebaliknya kita harus tinggal bersama mereka dengan damai. Negeri kami, Saudi Arabia merupakan sumber awal Yahudi dan nenek-moyangnya, dari sana menyebar ke seluruh dunia”.
Wallahua’lam bis sowab.

Rabu, 23 Februari 2011

Selain Mubarak, Inilah 7 Pemimpin Diktator Paling Buruk di Dunia

Selain Mubarak, Inilah 7 Pemimpin Diktator Paling Buruk di Dunia

Senin, 07/02/2011 12:30 WIB | email | print
Selain Husni Mubarak di Mesir, sedikitnya ada tujuh pemimpin diktator terburuk di seluruh dunia. Salah satunya adalah Raja Arab Saudi. Ironisnya, para pemimpin diktator dan antidemokrasi itu mendapat dukungan, baik materil maupun nonmateril dari Amerika Serikat yang selama ini mengagung-agungkan demokrasi.
Joshua Holland, editor dan penulis senior di situs analisa politik dan kajian internasional AlterNet, mengungkap siapa saja ketujuh diktator paling buruk sedunia itu;
1. Paul Biya, Kamerun
Biya berkuasa di Kamerun sejak memenangkan "pemilu" tahun 1983. Mengapa kata "pemilu" diberi tanda kutip, karena tidak seperti pemilu pada umumnya, Biya menjadi satu-satunya kandidat presiden dalam pemilu tersebut dan ia diklaim berhasil mendapat dukungan 99 persen suara dalam pemilu tersebut.
Kamerun merupakan salah satu negara yang berhubungan dekat dengan AS. Tak heran, meski pemilu yang digelar sangat tidak demokratis, pemerintah AS tetap menggulirkan dana bantuan keuangan untuk pemerintah Kamerun lewat lembaga-lembaga finansial internasional seperti Bank Duna, IMF dan African Development Bank.
Organisasi hak asasi manusia Amnesty Internasional dalam laporannya menyebutkan bahwa pemerintahan Biya di Kamerun kerap menangkapi dan memenjarakan wartawan, melakukan eksekusi tanpa prosedur hukun dan melakukan bisnis kotor.
Pemerintah juga berusaha membungkam gerakan oposisi dengan melakukan dan menutup-nutupi berbagai pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan aparat negara. Rezim Biya di Kamerun tak segan-segan menangkap orang-orang yang dianggap menentang pemerintah, melarang warganya berkumpul atau membentuk asosiasi dan membatasi kebebasan mengeluarkan pendapat.
2. Gurbanguly Berdymuhammedov (Berdymukhamedov), Turkmenistan
Berdymuhammedov berkuasa sejak 2006 setelah presiden Turkmenistan wafat. Ia berhasil merebut tampuk kekuasaan di Turkmenistan dengan cara mengeluarkan mandat untuk memenjarakan pengganti presiden yang wafat.
Laporan Departemen Luar Negeri AS menyebutkan bahwa sejak tahun era tahun '90-an, Turkmenistan menjadi pemain utama dalam "US Caspian Basin Energy Initiative". Negara itu memfasilitasi negosiasi antara perusahan-perusahaan komersil dan pemerintahan Turkmenistan, Georgia, Azerbaijan dan Turki dalam pembangunan jaringan pipa bawah laut di Laut Kaspia untuk menyalurkan gas-gas alam serta ekspor gas alam Turkmenistan ke Turki dibawah bendera yang mereka sebut sebagai Trans-Caspian Gas Pipeline (TCGP)
Majalah Parade melaporkan bahwa AS menikmati pasokan minyak dari Turkmenistan. Pada tahun 2008, nilai impor minyak AS dari negeri itu mencapai 100 juta dollar. Perusahaan minyak Chevron bakan membuka kantor perwakilan sendiri di Ashgabat, ibukota Turkmenistan.
Namun pendapatan negara dari hasil ekspor gas alam dan minyak, terutama ke AS, tidak pernah dirasakan rakyat Turkmenistan. Organsasi Hak Asasi Manusia Human Rights Watch dalam laporannya menyatakan bahwa Berdymuhammedov justru menerapkan kebijakan yang mengekang kehidupan sosial rakyatnya serta bertindak represif.
3. Teodoro Obiang Nguema, Equatorial Guinea
Teodoro sudah berkuasa selama 32 tahun di Equatorial Guinea setelah menggulingkan dan mengeksekusi pamannya sendiri, Francisco Macias.
Setelah melakukan kudeta berdarah dan berhasil naik ke tampuk kepemimpinan, Obiang berjanji akan memimpin dengan cara yang lebih baik dan lebih lunak dari pendahulunya. Tapi nyatanya, Obiang tak kalah keji dengan pamannya. Tahun 1990-an, Dubes AS di negara itu bahkan pernah mendapatkan ancaman akan dibunuh hingga harus dievakuasi.
Tapi hubungan Obiang dengan AS kembali mesra setelah ditemukan sumber-sumber minyak di lepas pantai negara tersebut. Masih menurut data majalah Parade, AS mengimpor lebih dari 3 milliar produk petroleum dari Equator Guinea pada tahun 2008. Di masa-masa awal eksplorasi sumber minyak, negara itu bahkan mampu meraup pendapat mencapai 700 dollar AS tapi semua pendapatan negara itu disimpan di rekening-rekening pribadi Obiang yang dirahasiakan dan AS tutup mata atas fakta tersebut sepanjang masih bisa mengeruk keuntungan dari sumber minyak negeri Obiang.
4. Idriss Deby, Chad
Chad adalah satu negara yang menjadi sekutu AS dalam kampanye "perang melawan teror". AS menikmati hubungan dengan Chad berupa impor minyak dari negeri itu yang nilainya mencapai 3 miliar dollar per tahunnya.
Bisnis minyak dengan AS inilah yang memperkuat rezim Idriss Deby. AS, menurut majalah Parade, juga ikut memperkuat angkatan bersenjata Chad meski miiter negara itu ditengarai mengeksploitasi anak-anak untuk dijadikan tentara.
Amnesty Internasional dalam laporan tahun 2010 juga menggambarkan buruknya situasi kemanusiaan di Chad dibawah kepemimpinan Idriss Deby. Warga sipil dan pekerja kemanusiaan banyak yang diculik dan dibunuh, maraknya kekerasan dan perkosaan terhadap kaum perempuan, termasuk anak perempuan dan anak-anak yang dipaksa menjadi tentara.
Rezim Deby menangkapi, memenjarakan dan menyiksa orang-orang dari kelompok yang dianggap oposisi pemerintah, mengintimidasi para wartawan dan aktivis hak asasi manusia, bahkan pada tahun 2009 menghancurkan rumah-rumah dan fasilitas lainnya sehingga menyebabkan ribuan orang menjadi tuna wisma, dan membiarkan pada bandit dan kelompok bersenjata berkeliaran dan mengancam keamanan rakyatnya.
5. Islam Karimov, Uzbekistan
Karimov menjadi presiden Uzbekistan sejak tahun 1990. Ia juga menjadi salah satu sekutu AS dalam "perang melawan teror". Karimov memberi tempat bagi pasukan AS di Karshi-Khanabad, yang dijadikan sebagai basis angkata udara AS sampai tahun 2005.
Hubungan Karimov dan AS jadi "dingin" setelah ia meminta AS untuk menutup basis militer tersebut. Meski demikian, menurut Parade, hubungan dagang antara AS dan Uzbekistan meningkat dua kali lipat pada tahun 2008 dan AS mengimpor uranium dalam jumlah besar dari Uzbekistan, untuk keperluan pusat energi nuklir dan persenjataan AS. Tahun 2009, Uzbekistan bahkan memesan pesawat Boeing untuk keperluan maskapai nasionalnya, dengan nilai pembelian sebesar 600 juta dollar.
Tapi sebagai pemimpin, Karimov menggunakan tangan besi dalam mengatur rakyatnya. Laporan Human Rights Watch menyebutkan, rezim Karimov melakukan penangkapan, penyiksaan dan memberlakukan pembatasan bagi kelompok agama minoritas. Karimov bahkan disebut-sebut tak segan-segan membunuh lawan politiknya, dengan cara merebus "musuh"nya hingga mati.
6. Meles Zenawi, Ethiopia
Zenawi sudah berkuasa di Ethiopia selama 20 tahun. Tahun 2010, ia kembali berkuasa setelah partainya Front Demokrasi Revolusioner Rakyat Ethiopia memenangkan pemilu dengan dukungan suara 99, 6 persen ! ia berhasil mengintimidasi dan menekan para pendukung partai-partai oposisi dalam pemilu yang penuh rekayasa.
Ethiopia adalah sekutu strategis AS dalam agenda "perang melawan teror" dan pemerintahan Zenawi menerima sokongan dana dari pemerintah AS. Menurut lembaga U.S. Agency for International Development, AS merupakan negara donor terbesar bagi Ethiopia.
Pada masa pemerintahan Presiden George W. Bush, Kongres AS mengesahkan undang-undang yang isinya meminta pemerintah AS membatasi bantuan militer untuk Ethiopia, karena rezim Zenawi dianggap membelenggu kebebasan pers dan buruknya kondisi hak asasi manusia di negeri itu. Tapi Buhs keberatan dengan undang-undang tersebut dan tetap menggulirkan bantuan finansial dengan dalih untuk biaya "antisipasi terorisme".
Rezim Zenawi melarang adanya kelompok-kelompok oposisi dan berdirinya lembaga swadaya masyarakat. Ia juga dianggap bertanggung jawab atas kasus-kasus penghilangan orang secara paksa. Meski demikian, AS tetap memberikan bantuan pelatihan terhadap pasukan militer Ethiopia.
7. Raja Abdullah bin Abdul Aziz, Arab Saudi
Raja Saudi ini menjadi satu dari tujuh pemimpin diktator di dunia versi AlterNet. Arab Saudi, merupakan sekutu AS yang paling penting di Timur Tengah. Selama puluhan tahun, AS memberikan layakan keamanan bagi keluarga kerajaan Saudi dengan kompensasi hasil minyak bumi negara Saudi.
Sejak menjadi Raja Saudi tahun 2005, Raja Abdullah sudah melakukan sejumlah reformasi di negaranya. Tapi Human Rights Watch menilai reformasi yang dilakukan Raja Abdullah kebanyakan masih berupa simbolis dan belum memenuhi tuntutan perlindungan atas hak asasi manusia secara konkret.
Amnesty International dalam laporan tahun 2010 menyebutkan bahwa kerajaan Arab Saudi masih memberlakukan kebijakan yang represif untuk membungkam kebebasan berpendapat dan berkumpul bagi rakyatnya. Ratusan orang ditangkap atas tuduhan teroris dan ribuan dipenjara atas nama keamanan negara. Dalam banyak hal, pemerintah Saudi juga masih membatasi hak-hak perempuan dengan mengatasnamakan ajaran agama. (ln/AlteNet)

Rabu, 05 Januari 2011

Abdullah bin Saba', Pendiri Syiah

Abdullah bin Saba', Pendiri Syiah

Abdullah bin Saba bahasa Arab: عبد الله بن سبأ (ca. 600 M), juga dikenal dengan nama Ibnu Saudah merupakan seorang Rabbi Yahudi yang masuk Islam pada masa Khalifah Utsman bin Affan dan kemudian menyulut pemberontakan terhadap khalifah waktu itu, serta kemudian diriwayatkan oleh sebagian sejarawan muslim sebagai pendiri Syi'ah. 
Pandangan Syi'ah
Tuduhan bahwa madzhab syiah adalah ajaran si Yahudi yang bernama Abdullah bin Saba' telah lama diketengahkan kepada masyarakat Islam dan sudah menjadi keyakinan masyarakat bahwa syiah adalah ajaran Yahudi Abdullah bin Saba' yang berpura-pura memeluk Islam tetapi bertujuan untuk menghancurkan pegangan aqidah umat Islam.
Seorang tokoh syiah Murtadha Askari telah mengatakan bahwa cerita Abdullah bin Saba' yang terdapat dalam versi sunni bersumber dari Al-Tabari (w.310H/922M), Ibn Asakir (w571H/1175M), Ibn Abi Bakr (w741H/1340M) dan al-Dhahabi (w747H/1346M). Mereka ini sebenarnya telah mengambil cerita Abdullah ibn Saba' dari satu sumber yaitu Sayf ibn Umar dalam bukunya al-Futuh al-kabir wa al-riddah dan al-Jamal wal-masir Aishah wa Ali (Murtadha Askari, Abdullah ibn Saba' wa digar afsanehaye tarikhi, Tehran, 1360 H).
Sayf adalah seorang perawi yang tidak dapat diipercaya dan dilemahkan oleh kebanyakan ahli hadits seperti Yahya ibn Mu'in (w233/847H), Abu Dawud (w275H/888M), al-Nasai (w303H/915M), Ibn Abi Hatim (w327H/938M), Ibn al-Sukn (w353H/964M), Ibn Hibban (w354H/965M), al-Daraqutni (w385H/995M), al-Hakim (w405H/1014M), al-Firuzabadi (w817H/1414M), Ibn Hajar (w852H/1448M), al-Suyuti (w911H/1505M, dan al-Safi al-Din (w923H/1517M).
Abdullah bin Saba', adalah seorang Yahudi yang memeluk Islam pada zaman Utsman, seorang pengikut Ali yang setia. Dia mengembara dari satu tempat ke satu tempat untuk menghasut masyarakat supaya memberontak menentang khalifah Uthman. Sayf adalah pengasas ajaran Sabaiyyahl.
Menurut Askari watak Abdullah bin Saba' adalah hasil rekaan Sayf yang juga telah mencipta beberapa karakter, tempat, dan kota khayalan. Dari cerita Sayf inilah beberapa orang penulis telah mengambil cerita Abdullah bin Saba' tersebut seperti Said ibn Abdullah ibn Abi Khalaf al-Ashari al-Qummi (w301H/913M) dalam bukunya al-Maqalat al-Firaq, al-Hasan ibn Musa al-Nawbakhti (w310H/922M) dalam bukunya Firaq al-Shiah, dan Ali ibn Ismail al-Ashari (w324H/935M) dalam bukunya Maqalat al-Islamiyyin. Allamah al-Askari mengesan cerita Abdullah ibn Saba' dari riwayat syiah dari Rijal oleh al-Kashshi. Al-Kashshi telah meriwayatkan dari sumber Sa'd ibn Abdullah al-Ashari al-Qummi yang menyebut bahawa Abdullah ibn Saba' mempercayai kesucian Ali sehingga menganggapnya sebagai nabi. Mengikut dua riwayat ini, Ali AS memerintahkannya menyingkirkan fahaman tersebut, dan disebabkan keengganannya itu Abdullah ibn Saba telah dihukum bakar hidup-hidup (walau bagaimanapun menurut Sa'd ibn Abdullah Ali telah menghalau Ibn Saba' ke Madain dan di sana dia menetap sehingga Ali AS menemui kesyahidannya. Pada ketika ini Abdullah ibn Saba' mengatakan Ali AS tidak wafat sebaliknya akan kembali semula ke dunia). Al-Kashshi, selepas meriwayatkan lima riwayat yang berkaitan dengan Abdullah ibn Saba' menyatakan bahawa tokoh ini didakwa oleh golongan Sunni sebagai orang yang pertama yang mengisytiharkan Imamah Ali AS. Allamah Askari menyatakan bahawa hukuman bakar hidup-hidup adalah satu perkara bida'ah yang bertentangan dengan hukum Islam sama ada dari madzhab Syi'ah atau Sunnah. Kisah tersebut pula tidak pernah disebut oleh tokoh-tokoh sejarah yang masyhur seperti Ibn al-Khayyat, al-Yakubi, al-Tabari, al-Masudi, Ibn Al-Athir, ibn Kathir atau Ibn Khaldun. Peranan yang dimainkan oleh Abdullah ibn Sabak' sebelum berlakunya peristiwa pembunuhan Uthman atau pada zaman pemerintahan Imam Ali AS telah tidak disebut oleh penulis-penulis yang terawal seperti Ibn Sa'd (w230H/844M0, al-Baladhuri (w279H/892M) atau al-Yaqubi. Hanya al-Baladhuri yang sekali sehaja menyebut namanya dalam buku Ansab al-Ashraf ketika meriwayatkan peristiwa pada zaman Imam Ali AS berkata: " Hujr ibn Adi al-Kindi, Amr ibn al-Hamiq al-Khuzai, Hibah ibn Juwayn al-Bajli al-Arani, dan Abdullah ibn Wahab al-Hamdani - ibn Saba' datang kepada Imam Ali AS dan bertanya kepada Ali AS tentang Abu Bakr dan Umar..." Ibn Qutaybah (w276H/889M) dalam bukunya al-Imamah wal-Siyasah dan al-Thaqafi (w284H/897M) dalam al-Gharat telah menyatakan peristiwa tersebut. Ibn Qutaybah memberikan identiti orang ini sebagai Abdullah ibn Saba'. Sa'd ibn Abdullah al-Ashari dalam bukunya al-Maqalat wal-Firaq menyebutkan namanya sebagai Abdullah ibn Saba' pengasas ajaran Saba'iyyah - sebagai Abdullah ibn Wahb al-Rasibi. Ibn Malukah (w474H/1082M) dalam bukunya Al-Ikmal dan al-Dhahabi (w748H/1347M) dalam bukunya al-Mushtabah ketika menerangkan perkataan 'Sabaiyyah ', menyebut Abdullah ibn Wahb al-Saba'i, sebagai pemimpin Khawarij. Ibn Hajar (w852H/1448M) dalam Tansir al-Mutanabbih menerangkan bahawa Saba'iyyah sebagai ' satu kumpulan Khawarij yang diketuai oleh Abdullah ibn Wahb al-Saba'i'. Al-Maqrizi (w848H/1444M) dalam bukunya al-Khitat menamakan tokoh khayalan Abdullah ibn Saba' ini sebagai 'Abdullah ibn Wahb ibn Saba', juga dikenali sebagai Ibn al-Sawda' al-Saba'i.'
Allamah Askari mengemukakan rasa kehairannya bahawa tidak seorang pun daripada para penulis tokoh Abdullah ibn Saba' ini menyertakan nasabnya - satu perkara yang agak ganjil bagi seorang Arab yang pada zamannya memainkan peranan yang penting. Penulis sejarah Arab tidak pernah gagal menyebutkan nasab bagi kabilah-kabilah Arab yang terkemuka pada zaman awal Islam tetapi dalam kisah Abdullah ibn Saba' , yang dikatakan berasal dari San'a Yaman, tidak dinyatakan kabilahnya. Allamah Askari yakin bahawa Ibn Saba' dan golongan Sabai'yyah adalah satu cerita khayalan dari Sayf ibn Umar yang ternyata turut menulis cerita-cerita khayalan lain dalam bukunya. Walau bagaimanapun, nama Abdullah ibn Wahb ibn Rasib ibn Malik ibn Midan ibn Malik ibn Nasr al-Azd ibn Ghawth ibn Nubatah in Malik ibn Zayd ibn Kahlan ibn Saba', seorang Rasibi, Azdi dan Saba'i adalah pemimpin Khawarij yang terbunuh dalam Peperangan Nahrawan ketika menentang Imam Ali AS.
Nampaknya kisah tokoh Khawarij ini telah diambil oleh penulis kisah khayalan itu untuk melukiskan watak khayalan yang menjadi orang pertama mengiystiharkan Imamah Ali AS. Watak ini tiba-tiba muncul untuk memimpin pemberontakan terhadap khalifah Uthman, menjadi dalang mencetuskan Perang Jamal, mengisytiharkan kesucian Ali AS, kemudian dibakar hidup-hidup oleh Ali AS atau dihalau oleh Ali AS dan tinggal dalam buangan seterusnya selepas kewafatan Imam Ali AS, mengisytiharkan kesucian Ali AS dan Ali akan hidup kembali dan orang yang pertama bercakap dengan lantang tentang musuh-musuh Ali AS.
Menurut Allamah Askari, perkataan Saba'iyyah adalah berasal-usul sebagai satu istilah umum untuk kabilah dari bahagian selatan Semenanjung Tanah Arab iaitu Bani Qahtan dari Yaman. Kemudian disebabkan banyak daripada pengikut-pengikut Imam Ali bin Abi Talib AS berasal dari Yaman seperti Ammar ibn Yasir, Malik al-Ashtar, Kumayl ibn Ziyad, Hujr ibn Adi, Adi ibn Hatim, Qays ibn Sa'd ibn Ubadah, Khuzaymah ibn Thabit, Sahl ibn Hunayf, Utsman ibn Hunayf, Amr ibn Hamiq, Sulayman ibn Surad, Abdullah Badil, maka istilah tersebut ditujukan kepada para penyokong Ali AS ini. justeru, Ziyad ibn Abihi pada suatu ketika mendakwa Hujr dan teman-temannya sebagai 'Saba'iyyah.' Dengan bertukarnya maksud istilah, maka istilah itu juga turut ditujukan kepada Mukhtar dan penyokong-penyokongnya yang juga terdiri daripada puak-puak yang berasal dari Yaman. Selepas kejatuhan Bani Umayyah. istilah Saba'iyyah telah disebut dalam ucapan Abu al-Abbas Al-Saffah, khalifah pertama Bani Abbasiyyah, ditujukan kepada golongan Syi'ah yang mempersoalkan hak Bani Abbas sebagai khalifah.
Walau bagaimanapun Ziyad maupun Al-Saffah tidak mengaitkan Saba'iyyah sebagai golongan yang sesat. Malahan Ziyad gagal mendakwa bahwa Hujr bin Adi dan teman-temannya sebagai golongan sesat. Istilah Saba'iyyah diberikan maksudnya yang baru oleh Sayf ibn Umar pada pertengahan kedua tahun Hijrah yang menggunakannya untuk ditujukan kepada golongan sesat yang kononnya diasaskan oleh tokoh khayalan Abdullah ibn Saba'. 

Pandangan Sunni
Para ‘ulama terdahulu, baik dari kalangan ahli hadits, ahli sejarah, ataupun yang lainnya telah sepakat akan keberadaan tokoh besar syi’ah sekaligus pendirinya yang bernama Abdullah bin Saba’, tidak ada yang mengingkarinya kecuali sebagian syi’ah rafidhah.
Abdullah bin Saba’ yang juga dikenal dengan sebutan Ibnu Sauda’ adalah seorang Yahudi yang berasal dari negeri Yaman, tepatnya dari daerah Shan’a (Ibu kota Yaman). Ia berpura-pura masuk islam pada masa pemerintahan Utsman bin ‘Affan untuk menghancurkan islam dari dalam.
Berbagai macam fitnah ia timbulkan. Ia terlibat dalam pembunuhan Khalifah Utsman bin ‘Affan, juga terlibat mengobarkan fitnah pada perang Jamal antara Ali dan ‘Aisyah, dan perang Shiffin antara Ali dan Mu’awiyyah radhiallahu ‘anhum. Kemudian pada pemerintahan ‘Ali ia kembali membuat ulah dengan memunculkan satu fitnah besar yaitu mengajak manusia untuk meyakini Khalifah Ali sebagai Tuhan. Dengan sebab ulahnya itulah para Saba’iyyah ketika itu harus rela dibakar oleh seorang yang mereka anggap sebagai Tuhan.[1]
Abdullah bin Saba’ atau yang juga disebut dengan Ibnu Sauda’ bukanlah tokoh fiktif sebagaimana sangkaan sebagian orang-orang syi’ah sekarang. Diantara alasan mereka yang tidak mengakui keberadaan Abdullah bin Saba’ adalah, kata mereka, riwayat-riwayat yang menjelaskan tentang hakekat Abdullah bin Saba’ adalah lemah karena melewati jalur seorang perawi bernama Saif bin Umar At-Tamimi, ia telah dilemahkan oleh beberapa pakar hadits Ahlus Sunnah terkemuka.
Alasan mereka yang sangat lemah ini dapat kita jawab dari beberapa sisi:
Pertama: pernyataan mereka bahwa para ulama pakar hadits telah melemahkan Saif bin ‘Umar At-Tamimi adalah benar. Akan tetapi yang perlu diperhatikan bahwa yang mereka lemahkan adalah periwayatan haditsnya (maksudnya jika ia meriwayatkan hadits maka haditsnya lemah) adapun dalam masalah sejarah maka beliau dapat dijadikan sandaran dan rujukan, hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu Hajar (beliau termasuk ulama yang mereka jadikan rujukan untuk melemahkan Saif bin Umar At-Tamimi) dalam kitabnya Tahdzibut Tahdzib 1/408 dan Taqribut Tahdzib 1/408 :
Saif bin Umar At-Tamimi pengarang kitab Ar-Riddah, ada yang mengatakan dia Adh-Dhabi ada yang mengatakan selainnya, Al-Kufi Dha’if haditsnya, (akan tetapi) Umdah (bisa dijadikan sandaran) dalam bidang tarikh/sejarah.”
Imam Adz-Dzahabi (juga ‘ulama yang mereka jadikan rujukan untuk melemahkan Saif bin Umar At-Tamimi) berkata dalam kitabnya Mizanul I’tidal 2/ 255, “Ia adalah pakar sejarah yang paham.”
Demikian pula Al-Mubarakfuri dalam kitabnya Tuhfatul Ahwadzi 10/249 menyebutkan seperti ucapan Ibnu Hajar diatas.
Umar Kahalah dalam kitabnya Mu’jamul Muallifin 4/288 mengatakan, “Saif bin Umar At-Tamimi Al Burjumi, Ahli sejarah berasal dari Kufah.”
Maka jelaslah bahwa yang dilemahkan oleh para muhaditsin adalah riwayat haditsnya, adapun dalam permasalahan sejarah maka beliau termasuk ahlinya yang dapat dijadikan sandaran.
Kedua: perlu diketahui bahwa riwayat-riwayat yang menjelaskan keberadaan Abdullah bin Saba’ baik yang terdapat dalam kitab Tarikh Ibnu Asakir, Tarikh Thabari, atau selain keduanya tidak hanya datang dari jalur Saif bin Umar At-Tamimi, akan tetapi juga diriwayatkan dari beberapa jalur yang sebagiannya shahih. Diantaranya adalah:
1. Diriwayatkan dari jalur Abu Khaitsamah
Ia berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abbad ia berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Ammar ad-Duhani katanya, saya mendengar Abu Thufail berkata …..”
2. Diriwayatkan melalui jalur ‘Amr bin Marzuk
Ia berkata, telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Salamah bin Kuhail dari Zain bin Wahb ia berkata, “Ali radhiallahu ‘anhu berkata, ‘ada apa denganku dan dengan orang jahat yang hitam ini (maksudnya Abdullah bin Saba’) ia telah mencela Abu Bakar dan Umar radhiallahu ‘anhu.”
3. Diriwayatkan pula melalui jalur Muhammad bin ‘Utsman bin Abi Syaibah
ia berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Ala ia berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin ‘Ayyas dari Mujalid dari Sya’bi ia berkata, “Pertama kali yang berdusta adalah Abdullah bin Saba’.”
4. Ibnu Ya’la Al-Mushili
Berkata dalam kitab Musnadnya, “Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib ia berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hasan Al-Asadi ia berkata, telah menceritakan kepada kami Harun bin Shalih dari Harits bin Abdurrahman dari Abul Jallas katanya, ‘aku mendengar Ali berkata kepada Abdullah bin Saba’, ‘….”
5. Berkata Abu Ishaq al-Fazzari
Dari Syu’bah dari Salamah bin Kuhail dari Abu Za’ra’ dari Zaid bin Wahb …………. (lihat semuanya di Lisanul Mizan 2/40)
Ketiga: juga terdapat dalam kitab rujukan Syi’ah baik itu kitab tentang firqah, hadits, atau rijal riwayat yang cukup banyak yang sama sekali tidak melewati jalur Saif bin Umar At-Tamimi. Sebagaimana yang akan kita jelaskan insya Allah
Abdullah bin Saba’ di Kitab-kitab Ahlus Sunnah
Tentunya sangat banyak sekali penyebutan Abdullah bin Saba’ dalam kitab-kitab Ahlus Sunnah yang kesemuanya tidak lain menunjukkan keyakinan mereka akan keberadaannya:
* Ibnu Taimiyyah berkata, “Sesungguhnya permulaan rafidhah berasal dari seorang Zindiq, yaitu Abdullah bin Saba’.” (Majmu’ Fatawa 28/483)
* Imam Adz-Dzahabi berkata, “Abdullah (bin Saba’) termasuk zindiq yang ekstrim, ia sesat dan menyesatkan.” (Mizanul I’tidal 2/426)
* Ibnu Hajar berkata, “Abdullah bin Saba’ termasuk zindiq yang paling ekstrim…. Ia memiliki pengikut yang disebut Sabaiyyah, mereka (kaum Sabaiyyah) memiliki keyakinan sifat ketuhanan pada diri Ali bin Abi Thalib. Beliau telah membakar mereka dengan api pada masa kekhilafaannya.” (Lisanul Mizan 3/360)
* Abul Muzhaffar Al Isfarayini dalam Al Milal wan Nihal ketika menceritakan tentang As-Sabaiyyah berkata, “Dan bahwasanya yang membakar mereka adalah Ali, yaitu kelompok dari rafidhah yang meyakini padanya (pada Ali) ada sifat ketuhanan, merekalah yang disebut kelompok Sabaiyyah pendirinya adalah Abdullah bin Saba’ seorang Yahudi yang menampakkan keislaman…” (lihat Fathul Bari 12/270)
* Abdullah bin Muslim bin Qutaibah dalam kitabnya Ta’wilu Mukhtalafil Hadits 1/21 berkata, “Kami tidak pernah mengetahui ada pada ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu yang meyakini adanya sifat ketuhanan pada manusia selain mereka (yaitu rafidhah ekstrim). Sesungguhnya Abdullah bin Saba’ meyakini adanya sifat ketuhanan pada diri Ali.”
* Az Zarkali berkata, “Abdullah bin Saba’ pendiri kelompok Sabaiyyah.” (Al-A’lam 4/88)
Demikian pula, para ulama’ Ahlus Sunnah sering sekali menjuluki seorang rawi yang beraqidah Rafidhah ekstrim sebagai Sabaiyyah (pengikut Abdullah bin Saba’), kalau seandainya Abdullah bin Saba’ adalah tokoh fiktif mana mungkin mereka memakai istilah tersebut.
* Ash-Shafadi berkata, “As-Sabaiyyah dinisbahkan kepada Abdullah bin Saba’.’ (Al-Wafil Wafayat 5/30)
* Beliau juga berkata, “Pendiri As-Sabaiyyah adalah Abdullah bin Saba’, dialah pendiri kelompok Sabaiyyah, dia pula yang berkata kepada Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, ‘Kamu adalah Tuhan.” (5/393)
* Ibnu Hibban berkata, “Dan adalah al-Kalbi seorang Sabaiyyah termasuk yang berkeyakinan Sesungguhnya Ali belum mati, dia akan kembali ke dunia sebelum hari kiamat…” (Al-Majruhin 2/253)
* Ibnu Makula berkata dalam kitab Rijalnya, “Faraj bin Sa’id bin ‘Alqamah bin Abyadh bin Hamal As Sabay… dan Sabayyah termasuk rafidhah yang paling ekstrim nisbah kepada Abdullah bin Saba’. (lihat Ikmalul Kamal 4/536)
* As Sam’ani dalam kitabnya Al Ansab 3/209 berkata, “Dan Abdullah bin Wahb as Saba’i, gembong khawarij, menurutku bahwa Abdullah bin Wahb ini dinisbahkan kepada Abdullah bin Saba’, dia dari rafidhah, dan jama’ah dari mereka yang dinisbahkan kepadanya disebut, as Sabaiyyah.”
* As Suyuthi dalam kitabnya Lubbul Lubab fi Tahriril Ansab 1/42 berkata, “…Dan (dinisbahkan juga) kepada Abdullah bin Saba’ pendiri Sabaiyyah dari rafidhah.”
* Dan selain mereka banyak sekali.
Abdullah bin Saba’ di Kitab-kitab Syi’ah
* Al Kisysyi dalam kitabnya Ar-Rijal 1/324 meriwayatkan dari Muhammad bin Qauluwiyah ia berkata, telah menceritakan kepadaku Sa’d bin Abdillah ia berkata, telah menceritakan kepadaku Ya’qub bin Yazid dan Muhammad bin ‘Isa dari Ali bin Mihziyar dari Fudhalah bin Ayyub al-Azdi dari Aban bin Utsman ia berkata, “Aku mendengar Abu Abdillah berkata, ‘La’nat Allah atas Abdullah bin Saba’, sesungguhnya ia meyakini adanya sifat ketuhanan pada diri Amirul Mukminiin (Ali), padahal demi Allah! Amirul Mukminin hanyalah seorang hamba yang taat.”
* Demikian pula Al Qummi dalam kitabnya Al Khishal meriwayatkan seperti diatas dengan sanad yang berbeda.
* Dan selain keduanya.
Maka dari uraian diatas kita mengetahui bahwa Abdullah bin Saba’ bukanlah tokoh fiktif/khayalan/rekaan/dongeng. Ini telah menjadi kesepakatan para ‘ulama sejarah, hadits, dan pengarang kitab tentang firqah, thabaqat, Rijal, adab, dan Ansab. Maka kaum syi’ah tidak memiliki celah untuk mengingkari keberadaan Abdullah bin Saba’.
Jadi pembahasan tentang Abdullah bin Saba’ tidak sebatas ada dalam kitab Tarikh Ath-Thabari saja dan tidak hanya melalui jalur periwayatan Saif bin ‘Umar At-Tamimi, walaupun beliau adalah seorang yang dapat dijadikan sandaran dalam bidang sejarah sebagaimana yang kami jelaskan diatas.
Setelah ini semua, masihkah kita mengingkari keberadaan Abdullah bin Saba’ si Yahudi yang berpura-pura masuk islam?
Inilah yang dapat kami suguhkan pada kesempatan kali ini. Wallahu a’lam bish shawwab. [1] Lihat biografi Abdullah bin Saba’ selengkapnya di Tarikh Dimasyq 3/29, Tarikh Thabari, Al Kamil karya Ibnul Atsir, Al Ma’arif hal.622 karya Ibnu Qutaibah, Mizanul I’tidal 2/426, Al Milal wan Nihal hal.365 karya Asy-Syihristani, Al Wafi bil Wafayat 17/189.

Kamis, 09 Desember 2010

Dokumen Rahasia 9/11 Bocor, "Perang" AS-Saudi Pecah

WASHINGTON (Berita SuaraMedia) - Dokumen yang dikumpulkan oleh pengacara untuk keluarga korban Sept 11 memberikan bukti baru yang ekstensif mengenai pendanaan untuk mendukung Al Qaeda dan kelompok lainnya oleh anggota keluarga kerajaan di Saudi.
Pengacara yang memberikan kutipan dari dokumen tersebut kepada The New York Times yang oleh mereka diletakkan bersama potongan-potongan dokumen yang bocor dari intelijen Amerika.
Bukti yang awalnya disajikan dalam ratusan ribu halaman, menceritakan bagaimana keluarga kerjaan Saudi menggunakan perantara dan pasokan keuangan untuk mendanai militan yang berbasis di Afghanistan dan Bosnia.
Seseorang yang mengaku anggota Al-Qaida di Bosnia menjelaskan dalam sebuah wawancara dengan pengacara dalam perkara itu bahwa badan amal yang lain yang dikontrol oleh sebagian besar anggota dari keluarga kerajaan mengirimkan uang dan perlengkapan kepada militan pada tahun 1990-an dan menyewa militan seperti dirinya.
Saksi lain di Afghanistan mengatakan dalam sebuah pernyataan dibawah sumpah pada tahun 1998 ia menyaksikan seorang duta untuk raja terkemuka Saudi, Turki al-Faisal, memberikan cek sejumlah satu miliar Saudi riyal (sekarang bernilai sekitar $ 267 juta) kepada pemimpin Taliban.
Dan laporan intelijen rahasia Jerman memberikan keterangan rinci puluhan juta dolar dalam transfer bank, dengan tanggal dan jumlah dolar, yang dilakukan pada awal tahun 1990-an oleh Pangeran Salman bin Abdul Aziz dan anggota lain dari keluarga kerajaan Saudi untuk badan amal lain yang diduga militan pembiayaan kegiatan di Pakistan dan Bosnia.
Namun, sebuah kutipan berita dari Washington Post menyatakan AS juga mengambil peran dalam menyelundupkan senjata. Dan peran AS "lebih dari menutup mata untuk apa yang terjadi." Amerika Serikat membantu Arab Saudi yang tidak memiliki "kecanggihan teknis". Para pejabat menolak untuk memberi banyak detail mengenai peran Amerika dalam operasi itu, "tetapi secara logika tanpa persetujuan dari NATO dan Amerika Serikat maka tidak ada yang bisa terjadi." Tulis laporan tersebut
Dokumen tersebut menghubungkan keluarga kerajaan dengan peristiwa 11 September, 2001. Tautan yang lebih luas bergantung pada rincian waktu, titik-pendekatan yang dihubungkan untuk menyatukan hubungan raja Saudi, Timur Tengah, transaksi amal mencurigakan dan kelompok musuh-musuh AS.
Keluarga kerajaan Saudi telah lama dikenal memiliki ikatan yang kuat dengan pemerintahan Bush, juga diduga telah memperkuat militan dengan menggunakan agen perantara termasuk Komisi Tinggi Saudi untuk Bantuan ke Bosnia.
Saudi dan para pembelanya di Washington sudah lama menyangkal hubungan dengan peristiwa 11 September, dan mereka telah menjalankan kampanye yang agresif, dan sampai saat ini, berhasil untuk memukul kembali dugaan di pengadilan federal berdasarkan klaim imunitas kedaulatan.
Dugaan hubungan Saudi dengan peristiwa 11 September telah menjadi subyek penyelidikan pemerintah dan perdebatan hebat selama bertahun-tahun.
Pengacara dan pendukung Saudi mengatakan bahwa hubungan tersebut lemah dan memanfaatkan stereotip AS tentang terorisme, dan bahwa negara sedang digugat karena memiliki kantong yang dalam dan menjadi rumah bagi 15 orang dari 19 orang yang dituding sebagai pembajak pesawat dalam peristiwa rekayasa 11 September oleh AS.
"Dalam melihat semua bukti yang dibawa oleh keluarga-keluarga tersebut, saya tidak melihat sedikitpun bukti bahwa Arab Saudi telah melakukan sesuatu dengan serangan 9/11," Michael Kellogg, seorang pengacara yang mewakili Pangeran Muhammad al-Faisal Al-Saud dalam perkara hukum, mengatakan dalam sebuah wawancara.
Dia dan pengacara pembela mengatakan bahwa daripada mendukung Al Qaeda, yang pemimpinnya, Osama Bin Laden telah diasingkan dari Arab Saudi dan dicabut kewarganegaraannya, negara asalnya, pada tahun 1996. "Itu adalah tragedi yang mengerikan yang terjadi pada mereka, dan saya memahami kemarahan mereka," ujar Kellogg. "Mereka ingin mencari orang-orang yang bertanggung jawab, tapi saya pikir mereka telah dipermainkan oleh pengacara mereka sendiri atas klaim tersebut tanpa tujuan yang jelas yang dilayangkan terhadap orang yang salah."
Kedutaan Saudi di Washington menolak memberikan komentar.
Dua hakim federal dan Second Circuit Court of Appeals telah menolak petisi 7.630 orang yang mewakili perkara itu, yang terdiri dari korban dari serangan dan anggota keluarga mereka yang dibunuh, dan mengatakan bahwa keluarga-keluarga itu tidak dapat menuntut tindakan hukum di Amerika Serikat terhadap bangsa yang berdaulat dan pemimpinnya.
Mahkamah Agung yang diharapkan minggu ini untuk memutuskan apakah akan mendengar sebuah banding, tetapi prospek keluarga itu redup ketika bulan lalu Departemen Kehakiman berpihak dengan Saudis yang menggunakan kekebalan hukum dan mendesak pengadilan untuk tidak mempertimbangkan banding.
Di Departemen Kehakiman mengatakan sebuah undang-undang 1976 tentang imunitas kedaulatan melindungi Saudi dari kewajiban dan mencatat bahwa "berpotensi signifikan menimbulkan konsekuensi hubungan asing" jika tuntutan semacam itu diizinkan untuk dilanjutkan.
"Kasus-kasus seperti ini menempatkan pemerintah AS dalam posisi yang sangat sulit jika harus membuat argumen hukum, bahkan ketika mereka melihat hukum yang lebih baik," kata John Bellinger, mantan pengacara Departmen Negara yang telah terlibat dalam proses pengadilan Saudi.
Pejabat senior pemerintahan Obama mengadakan pertemuan pribadi pada hari Senin dengan anggota keluarga 9/11untuk berbicara tentang kemajuan memecahkan pembiayaan para musuh AS. Pejabat pemerintahan dalam rapat tersebut menghindari pertanyaan mengenai perkara tersebut.
Sekalipun 9/11 keluarga berhasil memperkarakan kasus mereka di pengadilan, mereka mungkin akan kesulitan mendapatkan beberapa materi baru sebagai bukti. Jikapun dapat, bukti tersebut mungkin akan diangggap tidak relevan. Dan jika keluarga-keluarga tersebut berhasil melewati rintangan, mereka mungkin masih belum dapat dua bukti penting mengenai keterlibatan Saudi.
Salah satunya adalah penyelidikan Kongres tahun 2003 terhadap serangan 11 September sebanyak 28 halaman, yang diklasifikasikan. Bagian rahasia tersebut diyakini membicarakan intelijen dalam hubungan keuangan Saudi terhadap dua pembajakan tersebut, dan Saudi mendesak hasil penyelidikan tersebut dibuka untuk masyarakat. Namun, Presiden George W. Bush menolak untuk melakukannya. Dan mengatakan "90, 95 persen tidak dapat dikompromikan, dalam pendapat saya, segala hal yang menyangkut keamanan nasional."
Bagian dari laporan yang tidak diklasifikasikan dari laporan tersebut mengatakan bahwa al-Bayoumi mengeluarkan banyak biaya dan dua pembajak itu, "memiliki akses dana tidak terbatas dari Arab Saudi atau negara asing lainnya."
Bukti yang lain yang mungkin tidak akan didapat terdiri dari dokumen rahasia yang bocor ke salah satu firma hukum yang mewakili keluarga-keluarga korban, Motley Rice of South Carolina, yang dipimpin oleh Ronald Motley.
Pengacara untuk perusahaan tersebut mengatakan seseorang yang tidak dikenal membocorkan kepada mereka 55 dokumen yang berisi bahan yang diklasifikasikan pemerintah yang berkaitan dengan perkara Saudi.
Pada bulan Juni 2004, Komisaris 9/11 Bob Kerrey mengatakan bahwa sebelum 9 / 11, "Tidak ada keraguan bahwa Taliban telah mendapatkan uang dari Saudi ... dan tidak ada keraguan mereka mendapat lebih banyak daripada yang dari pemerintah Pakistan. Motif  mereka adalah masalah sekunder bagi kami." Dia mengklaim bahwa penemuan ini hampir sepenuhnya didasarkan pada informasi yang diketahui oleh pemerintah AS sebelum 9/11. "Semua yang kami lakukan adalah melihat dokumen diklasifikasikan dari pemerintah kita sendiri, bukan dari beberapa sumber ajaib. Jadi kita tahu apa yang terjadi, tetapi kita lakukan apa-apa." Ujarnya, seperti yang dikutip oleh LA Times