Selasa, 30 November 2010

Ada Kudeta Terselubung di Istana Raja Arab Saudi?

Ada Kudeta Terselubung di Istana Raja Arab Saudi?

Selasa, 30 November 2010, 02:11 WIB
Smaller  Reset  Larger
Irib
Ada Kudeta Terselubung di Istana Raja Arab Saudi?
Raja Abdullah
REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO--Menyusul semakin kritisnya kondisi Raja Abdullah, Raja Arab Saudi dan masih sakitnya Pangeran Mahkota negara ini, baru-baru diselenggarakan pertemuan penting di Kairo yang mengkaji semakin memuncaknya persaingan politik para pangeran Arab Saudi untuk merebut kekuasaan. Demikian diberitakan Fars Senin hari ini (29/11) mengutip surat kabar al-Wathan cetakan Amerika.

Baru-baru ini Kairo menjadi tempat seminar penting dan istimewa dengan tema "Masa Depan Konflik Politik Para Pewaris Kekuasaan Arab Saudi". Dalam seminar tersebut hadir para pakar politik untuk mengkaji konflik politik yang tengah terjadi di antara para pangeran Arab Saudi.

Seminar dilakukan di saat Raja Abdullah sakit kritis, namun penanganan sakitnya di Amerika punya dua tujuan penting untuk berobat sekaligus membenahi persoalan suksesi. Terlebih lagi dengan menyaksikan kondisi Pangeran Mahkota, Sultan bin Abdul Aziz yang tidak lebih baik dari dirinya. Dalam seminar ini, para dosen Mesir termasuk Sheikh Usman al-Azhari mewakili ulama Universitas al-Azhar dan para pakar politik dari negara-negara Arab.

Para peserta seminar berhasil mencapai hasil-hasil yang luar biasa, termasuk sejumlah informasi yang menyebutkan adanya konflik terselubung antara para pangeran Arab Saudi guna meraih kekuasaan. Sementara tidak boleh dilupakan bahwa ternyata Amerika dan rezim Zionis Israel berada di balik konflik ini. Karena Arab Saudi adalah negara penting bagi kedua pihak ini dan menjadi sekutu strategis pertama mereka untuk melawan para pejuang muqawama di Timur Tengah.

Kajian yang dilakukan sampai pada satu kesimpulan bahwa konflik di antara para pewaris kekuasaan Arab Saudi ini ada dua kelompok besar; pertama, antara anak-anak Abdul Aziz, pendiri Kerajaan Arab Saudi dan di antara cucu-cucunya. Di tingkat anak-anak Abdul Aziz, terjadi perebutan kekuasaan antara klan al-Sudairi sendiri seperti persaingan antara Nayef bin Abdul Aziz, Menteri Dalam Negeri Arab Saudi yang didukung oleh kelompok Wahabi dan di sisi lain ada Salman bin Abdul Aziz, Gubernur Riyadh dan Sultan bin Abdul Aziz, Pangeran Mahkota dan Menteri Pertahanan yang lagi sakit dan menjadi orang dekat CIA dan Barat.

Sementara pertikaian di kalangan cucu Abdul Aziz dimulai dari Khalid bin Sultan yang praktis menjalanan aktivitas Departeman Pertahanan Arab Saudi. Ia sama seperti ayahnya juga terlibat banyak skandal korupsi. Selain itu, Mutaib bin Abdullah, anak Raja Abdullah yang diangkat oleh ayahnya sebagai Komandan Pasukan Garda Nasional.

Di pihak lain, Bandar bin Sultan yang sempat diasingkan dengan tuduhan ingin melakukan kudeta setahun lalu kini telah kembali ke Arab Saudi. Para pakar politik melihat adanya hubungan antara kembalinya Bandar bin Sultan dan kepergian Raja Abdullah ke Amerika untuk berobat.

Hasil dari seminar Kairo menegaskan betapa Amerika dan Zionis Israel berharap suksesi di negara ini berjalan secara damai, sekalipun mereka lebih berharap Bandar bin Sultan yang dianggap bagian dari mereka untuk berkuasa, atau setidak-tidaknya tokoh yang dapat menjamin kepentingan Washington. Yang menarik, para peserta seminar mendesak penyelamatan tempat-tempat suci Islam dari kekuasaan keluarga Al Saud, Wahabi dan memintanya diawasi oleh umat Islam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar