Rabu, 24 November 2010

Nasib Perang Yaman

Nasib Perang Yaman Presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh bertekad segera membasmi total milisi Al-‎Houthi. Hal itu ditegaskannya bersamaan dengan digelarnya putaran keenam ‎serangan tentara Yaman terhadap gerilyawan Syiah Zaidiyah itu. Namun demikian, ‎kendati serangan militer pemerintah Yaman sudah empat setengah bulan berlalu, ‎para pejuang Al-Houthi masih terus eksis melancarkan perlawanannya bahkan ‎kekuatan dan popularitas kelompok ini makin menanjak. Padahal sejak awal, Arab ‎Saudi sendiri juga turut menyokong operasi militer pemerintah Yaman dengan ‎melancarkan serangan udara ke wilayah utara Yaman, kawasan yang dikenal ‎sebagai kantong-kantong pertahanan gerilyawan Al-Houthi. Bahkan pada awal ‎November, Arab Saudi juga mengerahkan pasukan angkatan darat dan lautnya ke ‎wilayah konflik. Parahnya lagi, belakangan AS juga ikut-ikutan memerangi milisi ‎Syiah Zaidiyah. Tentu saja, kondisi ini membuat skala konflik di Yaman kian ‎melebar dan pelik.‎
Awalnya, krisis di Yaman tak begitu parah. Masyarakat Syiah Zaidiyah yang ‎umumnya tinggal di provinsi Sa'dah menuntut keadilan ekonomi dan kebebasan ‎bermazhab. Namun bagi pemerintah pusat Yaman, tuntutan itu terlalu mahal. ‎Ironisnya lagi, rezim Yaman justru menjawab tuntutan rasional itu dengan operasi ‎militer. Lima tahun lalu, serangan pertama militer Yaman ke Sa'dah, berhasil ‎menewaskan pemimpin politik gerakan Al-Houthi, Hussein Al-Houthi. Tak ayal, ‎kejadian itu justru mendorong kekuatan milisi Al-Houthi makin melebar dan ‎memantapkan tekad masyarakat Syiah untuk meraih keadilan politik, agama, dan ‎ekonomi. Akibatnya, konflik bersenjata pun terus berlanjut hingga kini. Meski ‎selama ini, para pemimpin milisi Syiah menyambut baik usulan gencatan senjata ‎dan perundingan untuk menyelesaikan friksi dengan pemerintah Sana'a. namun ‎pemerintah Yaman tetap saja bertahan untuk mengobarkan perang yang justru ‎banyak mengorbankan warga sipil. ‎
Masuknya campur tangan tentara Arab Saudi ternyata tak juga mengubah nasib ‎perang saudara di Yaman. Sebagian analis menilai, penentangan ideologi wahabi ‎yang mendominasi Arab Saudi terhadap Syiah merupakan salah satu faktor yang ‎melatarbelakangi serangan militer Saudi terhadap warga Syiah di Sa'dah. Rezim ‎Riyadh yang selama ini memiliki rekam jejak yang panjang dalam mencampuri ‎urusan dalam negeri Yaman, menggelar aksi misionaris besar-besaran untuk ‎menwahabikan warga Syiah Zaidiyah di utara Yaman. Namun, mayoritas warga di ‎utara Yaman merupakan pendukung pemikiran Islam revolusioner, Sayid Hussein ‎Al-Houthi dan menolak pemikiran kolot dan fanatik buta ideologi Wahabi. Tentu ‎saja kondisi itu membuat rezim Riyadh merasa terancam. Apalagi sebagian besar ‎warga Syiah Arab Saudi terkonsentrasi di wilayah selatan yang berbatasan ‎langsung dengan utara Yaman. Arab Saudi khawatir tuntutan keadilan politik dan ‎ekonomi yang disuarakan warga Syiah di Yaman bisa mendorong warga Syiah di ‎Arab Saudi melakukan upaya serupa. ‎
Kini, mayoritas pakar militer meyakini bahwa operasi militer Arab Saudi di utara ‎Yaman menghadapi jalan buntu. Di sisi lain, meski pemerintah Yaman dan Arab ‎Saudi melarang masuknya wartawan ke kawasan perang, namun beragam bukti ‎dan laporan yang berhasil dihimpun ternyata menunjukkan bahwa militer kedua ‎negara itu tak banyak meraih kemenangan berarti. ‎
Beberapa waktu lalu, Koran Guardian terbitan Inggris mengungkap kegagalan ‎militer Yaman dan Arab Saudi dalam menghadapi perlawanan pejuang Al-Houthi. ‎Guardian menulis, "Dengan melihat kondisi medan pertempuran yang bergunung-‎gunung dan berbukit, serta penguasaan teknik perang gerilya dan pemanfaatan ‎ranjau darat yang tepat oleh Al-Houthi, para ahli memperkirakan, tentara Arab ‎Saudi tak lama lagi bakal menelan kekalahan telak". Koran terbitan London itu ‎menambahkan, "Perlawanan Al-Houthi dalam menghadapi militer Yaman dan Arab ‎Saudi telah mengundang keheranan para pengamat militer regional".‎
Jurubicara Kelompok Al-Houthi dalam wawancara dengan Televisi Al-Alam ‎mengungkapkan, "Pesawat-pesawat tempur Arab Saudi tetap saja menggempur ‎kawasan permukiman meski jauh dari pusat pertempuran". Dia menginginkan ‎kehadiran media untuk meliput dan menyaksikan brutalitas militer Arab Saudi. ‎Sementara pemimpin Al-Houthi di luar Yaman, Yahya Al-Houthi menilai serangan ‎militer Saudi sebagai aksi genosida. Ia menilai militer Saudi telah melakukan ‎kejahatan perang yang berat lantaran menggunakan senjata terlarang seperti bom ‎fosfor untuk menghabisi warga sipil. Ditegaskannya, "Kami telah berkali-kali ‎mendesak masyarakat internasional. Dan sekali lagi kami mendesak supaya para ‎jurnalis dan komisi penyelidikan diijinkan masuk ke kawasan perang. Sayangnya, ‎pemerintah Yaman dan Arab Saudi memblokade kawasan perang dan tidak ‎mengijinkan hal itu".‎
Kini, serangan udara AS ke utara Yaman merupakan bentuk dari dukungan nyata ‎Washington yang bisa menguntungkan Riyadh dan Sana'a. Sebelumnya, AS ‎memberikan bantuan finansial dan pelatihan militer kepada Yaman. Serangan ‎udara AS, khususnya pada tanggal 20 Desember lalu kian menampakkan ‎permusuhan sengit Washington terhadap masyarakat Syiah Yaman. Dalam ‎serangan itu, 130 warga sipil tewas dan 44 lainnya cidera. Kendati AS berusaha ‎mengingkari serangan itu, namun kelompok Al-Houthi berhasil mempublikasikan ‎tayangan video yang menunjukkan kebiadaban serangan udara AS. ‎
Karuan saja, dengan turut campurnya militer AS dalam konflik bersenjata di Yaman ‎membuat kondisi masyarakat sipil di utara Yaman makin menderita. Korban di ‎pihak sipil terus berjatuhan sementara pasokan bahan kebutuhan pokok, terutama ‎makanan, air minum, dan obat-obatan kian langka. Bahkan menurut sejumlah ‎laporan, tentara Yaman menghancurkan sumber-sumber air hingga masyarakat ‎sipil kini pun tak bisa memperoleh air minum yang bersih. Selain itu, sekitar 200 ‎ribu warga utara Yaman nasibnya kian terkatung-katung dalam pengungsian.‎
Mereaksi boikot pers yang diterapkan Arab Saudi dan Yaman, Amnesti ‎Internasional mendesak kedua pemerintahan negara itu mengijinkan lembaga-‎lembaga kemanusiaan untuk mengeluarkan para pengungsi dari kawasan perang. ‎Ironisnya lagi, menurut pengakuan aktivis politik Yaman, Sayf Ali Al-Washli, rezim ‎Sana'a ternyata memanfaatkan bantuan kemanusiaan bagi korban perang untuk ‎kepentingan lain. ‎
Di sisi lain, melihat adanya kedekatan ideologis antara masyarat muslim utara ‎Yaman dengan Republik Islam Iran. Maka Tehran pun dituding memberikan ‎bantuan persenjataan kepada gerilyawan Al-Houthi. Tanpa menyebutkan bukti dan ‎dalil yang kuat, media-media Arab yang berafiliasi dengan rezim Riyadh terus ‎melancarkan tudingan tersebut. Padahal jika kita melihat kembali peta geografi, ‎penyaluran bantuan hanya mungkin dilakukan lewat perbatasan Arab Saudi ‎ataupun laut merah. Sementara kedua kawasan itu berada dalam kontrol ketat ‎militer Arab Saudi. Selain itu, kebijakan Republik Islam Iran soal krisis di Yaman ‎senantiasa mengedepankan solusi damai melalui perundingan. ‎
Masalah lainnya adalah hampir semua warga Yaman bebas memegang senjata, ‎dan hingga kini pemerintah Sana'a pun belum mencabut larangan memiliki senjata ‎bagi warganya. Karena itu, kelompok Al-Houthi tidak terlalu kesulitan untuk ‎memperoleh pasokan senjata. Apalagi gerilyawan Al-Houthi juga dilaporkan ‎berhasil memperoleh rampasan senjata dari tentara Yaman dan Arab Saudi. ‎
Tentu saja dengan terus berlarut-larutnya perang, militer Yaman dan Arab Saudi ‎pun berupaya mengakhiri perang secara bermartabat. Sebagian pengamat menilai, ‎klaim kemenangan militer Arab Saudi yang ditampik oleh kelompok Al-Houthi ‎sejatinya merupakan pengantar untuk mengakhiri perang dari pihak Riyadh. ‎Sementara di kalangan politisi di Yaman sendiri muncul perdebatan sengit soal ‎kelanjutan perang. Selama ini kubu oposisi mendesak untuk segera mengakhiri ‎konflik dengan menggelar perundingan. Tentu saja, jika cara-cara penyelesaian ‎damai dan adil bisa diterapkan, maka masyarakat Syiah Yaman bisa lebih optimis ‎untuk memperoleh hak-hak politik dan agamanya.‎

Tidak ada komentar:

Posting Komentar